Gorgeous Inspirations

Gorgeous Teenage Novel: Looking for Alibrandi

Gorgeous Inspirations

Fidy Says
28th March 2008

Gorgeous Teenage Novel: Looking for Alibrandi

posted in Gorgeous Books |

If you still remember your last visit to Gorgeous Inspirations online magazine of July/August 2007 edition, you must remember my recommendation for you to read this astounding novel, Looking for Alibrandi (Indonesian title: Mencari Jati Diri) by Melina Marchetta.

Well, I’m going to review it again here, just because I want you all know how gorgeous the book is.

And by the way, I just bought the book for myself, so that I no longer have to check it out from the local library no more. Really, I need the book be around me :D

My review:
For this matter, say buh-bye to the United States for the reason that apparently Australia has a better—no, THE BEST teenage novel in the universe. It’s apt for women of all ages (grannies, mommies, and daughters). And guess what, this novel even becomes one of the school text books in the country! How awesome is that, eh?

Read this novel, and you’ll undergo practically all kinds of senses and emotions. I still remember how I truly guffawed at the humors inside. I still remember how I truly sobbed for the gloomy scenes inside. I still remember how I was truly mad as well when the characters felt rage. I still remember how I truly felt relieved and literally contented for the happy scenes inside. I just remember how I felt ALIVE reading this great book!

Looking for Alibrandi is such a strong and smart and inspiring and stunning novel, you wanna steal the book from one of those shelves in the nearest book store once you realize you don’t have one. Naaah… just a hyperbole sort of thing—skip this. But seriously, this book is just gorgeous.

From this book, you can learn (and recall your teenagehood) how to recognize your true you.

From this book, you can learn to understand other cultures. This is actually a multi-culture kind of book, in which Ms. Marchetta (I salute you, really, Ms. Marchetta!) shows the cultures of both Australian and Italian and the conflicts between those two in a very clever way.

From this book, you can learn (again) how to love others.

From this book, you can learn (always again and again) how every single person on earth has different perspectives on anything.

To sum up, you can learn anything from this awesome novel!

Looking for Alibrandi was also made into a movie (I’ve never had any opportunity to watch it, but I’m sure it is pretty much as great as the written version, as Ms. Marchetta herself wrote the screenplays).

:: The gorgeous inspiration of this post?
That Looking for Alibrandi is gorgeous, you must buy one for yourself :D

Share/Save/Bookmark

There are currently 4 responses to “Gorgeous Teenage Novel: Looking for Alibrandi”

Why not let us know what you think by adding your own comment! Your opinion is as valid as anyone elses, so come on... let us know what you think.

  1. 1 On March 30th, 2008, daulat rakyat said:

    May I borrow that novel? :-)

  2. 2 On April 2nd, 2008, Dhana said:

    Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

    Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.” Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu. ” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

    Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” “Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

    Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi deganku,” kata pohon apel. “Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?” “Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah .” Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

    Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu. “Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel. “Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu. “Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. “Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu. ” “Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.” Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

    Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita

  3. 3 On April 9th, 2008, Diar said:

    @daulatrakyat

    Of course you can borrow the novel :)

  4. 4 On April 9th, 2008, Diar said:

    @Dhana

    Thx for the ‘reminder’.

Leave a Reply

© 2007 - 2008 Gorgeous Inspirations. All Rights Reserved. Powered by Happy Cat.